Dalam satu perkara, klien menyatakan tanda tangan pada surat kuasa bukan miliknya. Di perkara lain, tanda tangan pada akta tampak sama persis dengan tanda tangan di KTP. Kedua situasi ini sama-sama disebut dugaan pemalsuan, tetapi cara pemalsuannya bisa sangat berbeda.
Pemalsuan tanda tangan tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama. Ada yang meniru sambil melihat contoh, ada yang menelusuri tanda tangan asli, ada yang menulis tanpa contoh sama sekali, dan ada yang memindahkan tanda tangan dari dokumen lain secara digital. Setiap jenis meninggalkan jejak yang berbeda, sehingga cara menilainya pun tidak bisa disamaratakan. Karena itu, menyebut sebuah tanda tangan “palsu” terlalu cepat berisiko, sebab pertanyaan berikutnya selalu sama: palsu dengan cara apa, dan atas dasar apa?
Artikel ini membahas jenis-jenis pemalsuan tanda tangan, mengapa mengenali jenisnya penting bagi praktisi hukum, serta bagaimana keaslian tanda tangan dibuktikan secara sistematis. Anda juga akan mengetahui kapan sebuah dokumen sebaiknya diperiksa oleh pihak yang kompeten.
Baca juga: Kasus Tanda Tangan Palsu dalam Sengketa Perdata dan Pidana
Mengapa Jenis Pemalsuan Perlu Dikenali
Dalam praktik hukum, tanda tangan sering menjadi penentu sah atau tidaknya sebuah dokumen. Ketika tanda tangan disangkal, pertanyaan yang muncul biasanya hanya satu: asli atau palsu? Padahal, di balik kata “palsu” ada beberapa kemungkinan cara pembuatan yang berbeda, dan masing-masing meninggalkan karakter yang berbeda pula. Mengenali jenisnya membantu praktisi menentukan pertanyaan yang tepat, dokumen pembanding yang dibutuhkan, dan bahan yang perlu diamankan sejak awal, terlebih karena pemalsuan surat kini diatur dalam Pasal 391 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang mulai berlaku pada 2026, menggantikan Pasal 263 KUHP lama. Ketentuan ini mencakup perbuatan membuat surat palsu maupun menggunakannya, sedangkan untuk surat tertentu yang bernilai kepercayaan tinggi, seperti akta autentik, berlaku Pasal 392 dengan ancaman pidana yang lebih berat. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca pada ulasan pasal pemalsuan di grafonomi. Karena unsur perbuatan dan pembuktiannya berpusat pada keaslian tanda tangan, penilaian yang disamaratakan berisiko melewatkan petunjuk penting.
Mengapa Menyebut “Palsu” Terlalu Cepat Berisiko
Ada tiga alasan untuk berhati-hati sebelum menyimpulkan:
- Tanda tangan asli pun bervariasi. Orang yang sama tidak menghasilkan dua tanda tangan yang persis kembar, sehingga perbedaan kecil belum tentu pemalsuan.
- Pemalsuan yang rapi tampak meyakinkan. Kemiripan bentuk sering menipu mata, sementara pembeda yang menentukan ada pada hal yang tidak tampak sekilas.
- Kondisi dokumen memengaruhi penilaian. Salinan yang buram atau berulang kali difotokopi menghilangkan detail goresan.
Karena itu, kesimpulan yang kuat lahir dari pengamatan terstruktur, bukan dari kesan pertama.
Baca juga: Tanda Tangan Mirip, Apakah Bisa Dianggap Pemalsuan di Mata Hukum?
Lima Jenis Pemalsuan Tanda Tangan yang Perlu Dikenali
Setiap jenis berikut meninggalkan karakter yang berbeda. Mengenalinya membantu praktisi menentukan apa yang perlu diamankan dan dibandingkan.
1. Peniruan dengan Melihat Contoh
Pelaku menulis ulang tanda tangan dengan memperhatikan contoh yang asli. Hasilnya sering mirip dari segi bentuk, terutama jika pelaku berlatih.
Jejak yang kerap ditemukan:
Baca juga: Keaslian Dokumen Dibuktikan, Bukan Dirasakan.
- Goresan tampak lebih lambat dan hati-hati dibanding tanda tangan asli.
- Ritme dan kelancaran gerak berbeda, meski bentuk akhirnya serupa.
- Proporsi antarbagian sedikit bergeser.
2. Penelusuran atau Penjiplakan (Tracing)
Tanda tangan asli ditelusuri sehingga bentuknya sangat mirip, bahkan nyaris identik.
Jejak yang kerap ditemukan:
- Kemiripan yang terlalu sempurna, padahal tanda tangan asli selalu bervariasi.
- Goresan bergetar atau tidak mulus.
- Ujung goresan tumpul, seolah digambar dan bukan ditulis.
3. Penulisan Tanpa Contoh
Pelaku menulis nama orang lain tanpa melihat tanda tangan aslinya.
Jejak yang kerap ditemukan:
- Bentuk dan struktur berbeda jauh dari tanda tangan pembanding.
- Kebiasaan menulis pelaku justru lebih terlihat daripada kebiasaan pemilik tanda tangan.
Jenis ini biasanya paling mudah dibedakan secara bentuk, tetapi tetap perlu diuji secara sistematis agar kesimpulannya dapat dipertanggungjawabkan.
4. Pemindahan Tanda Tangan secara Digital
Tanda tangan diambil dari dokumen lain melalui pemindaian atau salin dan tempel, lalu dicetak ulang pada dokumen baru.
Jejak yang kerap ditemukan:
- Tanda tangan identik dengan tanda tangan di dokumen lain, termasuk detail kecilnya.
- Garis tampak rata dan seragam, tanpa variasi tekanan seperti pada goresan tulis tangan.
- Tepi goresan menunjukkan pola cetak, bukan jejak pena.
Pembahasan ini mengenai tanda tangan yang tercetak pada dokumen. Verifikasi tanda tangan elektronik tersertifikasi memakai pendekatan yang berbeda.
5. Tanda Tangan yang Sengaja Diubah oleh Pemiliknya, lalu Disangkal
Pemilik menandatangani dengan sengaja berbeda dari kebiasaannya, kemudian di kemudian hari menyatakan tanda tangan itu bukan miliknya.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Penyangkalan tidak selalu berarti ada orang lain yang memalsukan.
- Pembanding dari berbagai periode dan jenis dokumen menjadi sangat penting.
- Kebiasaan gerak yang bersifat bawah sadar sering tetap muncul meski bentuk diubah.
Jenis ini menunjukkan mengapa penilaian harus netral. Pemeriksaan tidak berangkat dari praduga siapa yang benar.
Ringkasan Perbandingan
| Jenis | Ciri umum | Pertanyaan kunci bagi praktisi |
| Peniruan dengan contoh | Mirip bentuk, ritme berbeda | Apakah kelancaran gerak sesuai pembanding? |
| Penelusuran (tracing) | Terlalu mirip, goresan bergetar | Apakah ada variasi alami yang seharusnya muncul? |
| Tanpa contoh | Bentuk berbeda jauh | Apakah struktur sesuai dengan pembanding? |
| Pemindahan digital | Identik dengan dokumen lain | Apakah tanda tangan ini sama persis dengan yang lain? |
| Diubah oleh pemilik | Berbeda dari kebiasaan, lalu disangkal | Apakah kebiasaan gerak bawah sadar tetap tampak? |
Bagaimana Keaslian Tanda Tangan Dibuktikan secara Sistematis
Apa pun jenis dugaannya, pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan mengikuti tahapan yang runtut:
- Pengumpulan dokumen. Dokumen yang dipersoalkan dikumpulkan, idealnya dalam bentuk asli.
- Penyiapan pembanding. Contoh tanda tangan yang diketahui asli dikumpulkan dalam jumlah memadai, dari periode berdekatan dan jenis dokumen yang beragam.
- Pengamatan terstruktur. Setiap unsur goresan dicatat berdasarkan kriteria yang sama pada dokumen dan pembanding.
- Pembesaran dan pengukuran. Detail diperbesar dan proporsi diukur.
- Evaluasi persamaan dan perbedaan. Setiap temuan ditimbang: variasi wajar atau perbedaan mendasar.
- Penyusunan laporan. Kesimpulan dituangkan tertulis beserta dasar pertimbangannya.
Peran Alat Bantu
Mikroskop digital dan perangkat lunak pengukuran membantu melihat detail yang luput dari mata telanjang dan mencatat proporsi dalam bentuk angka. Manfaatnya ada dua: ketelitian, karena detail halus dapat dibandingkan berdampingan, dan dokumentasi, karena temuan terekam dan dapat ditinjau pihak lain. Alat hanyalah pendukung, sebab penilaian tetap membutuhkan pemeriksa yang memahami variasi alami dan keterbatasan dokumen.
Pemeriksaan ini berfokus pada tulisan dan tanda tangan. Aspek lain, seperti kertas, tinta, atau cap, termasuk bidang pemeriksaan yang berbeda.
Kapan Perkara Perlu Diperiksa Pihak yang Kompeten
Pemeriksaan layak dipertimbangkan ketika:
- salah satu pihak menyangkal tanda tangannya dan pihak lain bertahan pada keasliannya,
- dokumen akan menjadi alat bukti utama atau nilai perkaranya besar,
- penilaian visual internal menghasilkan pendapat yang berbeda-beda,
- dibutuhkan laporan tertulis yang dapat dipaparkan di hadapan majelis atau penyidik.
Semakin dini dokumen asli diamankan, semakin kuat dasar pemeriksaannya. Untuk pembahasan yang lebih umum, baca juga analisis tulisan tangan.
Dari “Palsu” Menjadi “Palsu dengan Cara Apa”
Bayangkan dua dokumen yang sama-sama dipersoalkan. Pada dokumen pertama, tanda tangan tampak sangat mirip dengan pembandingnya. Pada dokumen kedua, tanda tangan terlihat jauh berbeda. Reaksi spontan kebanyakan orang: yang pertama “kemungkinan asli”, yang kedua “pasti palsu”. Padahal bisa saja yang terjadi sebaliknya. Kemiripan yang terlalu sempurna justru bisa menandakan penelusuran atau pemindahan digital, sedangkan perbedaan yang mencolok bisa muncul dari tanda tangan asli yang dibuat dalam kondisi berbeda.
?” menghasilkan jawaban dua kata. Pertanyaan “jika ini dipalsukan, dengan cara apa, dan jejak apa yang seharusnya ada?” menghasilkan hal yang dapat diperiksa dan diuji pihak lain.
Tiga pelajaran penting bagi praktisi:
- Kemiripan dan perbedaan sama-sama perlu dijelaskan. Tanda tangan yang terlalu mirip tidak otomatis asli, dan tanda tangan yang berbeda tidak otomatis palsu.
- Jenis dugaan menentukan bahan yang perlu diamankan. Untuk dugaan pemindahan digital, dokumen sumber pembanding menjadi penting. Untuk dugaan peniruan, tanda tangan pembanding dari berbagai periode menjadi kunci.
- Penilaian yang netral melindungi semua pihak. Pemeriksaan yang tidak berangkat dari praduga justru menghasilkan kesimpulan yang paling kuat, siapa pun yang akhirnya diuntungkan.
Kesimpulan
Pemalsuan tanda tangan tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama. Ada peniruan dengan contoh, penelusuran, penulisan tanpa contoh, pemindahan secara digital, hingga tanda tangan yang sengaja diubah pemiliknya lalu disangkal. Setiap jenis meninggalkan jejak yang berbeda, sehingga penilaiannya tidak bisa disamaratakan.
Karena itu, menyebut sebuah tanda tangan “palsu” terlalu cepat berisiko. Kemiripan yang terlalu sempurna belum tentu asli, dan perbedaan yang mencolok belum tentu palsu. Pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan berangkat dari tahapan yang runtut: dokumen asli diamankan, pembanding yang memadai disiapkan, unsur goresan diamati secara terstruktur, detail diperbesar dan diukur, lalu temuan dituangkan dalam laporan yang dapat ditelusuri.
Bagi pengacara, jaksa, notaris, dan penegak hukum, pertanyaan yang berguna bukan lagi “apakah ini palsu?”, melainkan “jika ini palsu, dengan cara apa, dan dapatkah dasarnya ditunjukkan?”
Tanda tangan di dokumen klien Anda dipersoalkan?
Bekali diri dengan ebook Senjata untuk Pengacara.

Klik disini untuk mendapatkanya
Punya dokumen yang keaslian tanda tangannya dipersoalkan? Hubungi kami disini untuk berkonsultasi.
Ingin belajar lebih lanjut? Ikuti kami melalui instagram di @grafonomi.



